Tahun baru Islam yang kebetulan dan selalu jatuh pada tanggal 1
Muharram baru saja terlewati. Tak terasa juga kita sudah sampai di hari ke sekian
di bulan yang sering dianggap keramat oleh sebagian masyarakat ini. Ya, tahun
baru Islam memang tidak dirayakan dengan kemeriahan kembang api dan pesta-pesta
dengan menggelar konser-konser akbar di berbagai tempat. Namun, tahun baru
Islam dirayakan dengan melakukan amalan-amalan yang baik, menggelar Majelis Ta’lim,
Majelis Dzikir, dan lain-lain yang mendatangkan keberkahan, bukan malah
mendatangkan maksiat ataupun kemadharatan yang lain.
Berbicara soal barokah. Suatu amalan atau apapun yang dilakukan oleh
satu atau beberapa orang, lalu mendatangkan ketenangan dan ketenteraman, maka
itulah yang dinamakan barokah. Seperti kita ketahui salah satu contoh,
pengajian akbar atau sholawatan yang dihadiri puluhan ribu jamaah, sangat
jarang berakhir dengan tawuran dan tindakan anarkis lainnya. Beda dengan
konser-konser band, dangdut, atau yang sejenisnya yang biasanya berakhir dengan
tindakan anarkis. Itulah perbedaan suatu hal yang barokah dan tidak barokah.
Oya, kembali ke bulan Muharram. Bulan ini memang dikatakan sakral
oleh sebagian besar masyarakat. Sampai-sampai muncul kepercayaan bahwa tidak
boleh menikahkan anaknya di bulan Muharram. Kalau sampai melanggar, maka
anaknya akan celaka. Kepercayaan dari mana ini??? Padahal sudah jelas bahwa
menikah itu adalah suatu kebaikan. Coba kita lihat sejarah apa di balik itu
semua… Beberapa Ulama berpendapat bahwa tradisi ini muncul karena ada pengaruh
Syi’ah. Syi’ah adalah aliran yang mengagung-agungkan Sayyidina Ali bin Abi
Tholib. Ini memang tidak salah, namun jika terlalu berlebihan kan malah
terkesan tidak baik. Apalagi mereka sampai merendahkan Khalifah-Khalifah
sebelum Ali, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Mereka
menganggap bahwa Ali lah yang pantas menjadi Khalifah sejak awal. Sesuatu yang
berlebihan itu kan tidak baik. Oya, kembali ke kisah Ali tadi. Jadi pada bulan
Muharram, Hussein bin Ali bin Abi Tholib gugur. Karena Syi’ah begitu mencintai
Ali dan keturunannya, maka mereka pantang menggelar pesta dan bersenang-senang
di bulan Muharram. Termasuk pernikahan yang biasanya digelar dengan meriah dan
penuh dengan kebahagiaan. Jadi pada intinya, tidak apa-apa melakukan hal-hal
yang baik di bulan Muharram. Toh, bulan Muharram juga bulan yang mulia, bahkan
dikatakan Syahrullah (Bulannya Allah).
Bulan Muharram termasuk dalam 4 bulan haram yang mana terdiri dari,
bulan Dzulqo’dah, bulan Dzulhijjah, bulan Rajab, dan bulan Muharram sendiri.
Bulan haram mempunyai keutamaan-keutamaan yang tidak ada di bulan-bulan yang
lain. Keutamaan itu misalnya, kalau kita puasa di hari Arafah (tanggal 9
Dzulhijjah), maka dosa-dosa kita selama 2 tahun (setahun sebelumnya dan setahun
yang akan datang) akan diampuni, lalu puasa di hari Asy Syura (10 Muharram)
maka dosa kita selama 1 tahun yang lalu akan diampuni juga. Lalu, misal ada
yang bertanya begini, kalau sudah puasa Arafah kenapa juga harus puasa Asy
Syura? Kan dosa setahun yang lalu sudah diampuni?
Perhitungan pahala dan dosa itu tidak seperti hitungan matematika
yang biasa kita pelajari. Bayangkan saja
kalau perhitungannya seperti perhitungan manusia. Misal ada satu orang korupsi
1 Milyar, aggaplah dosanya 1 Milyar, terus dia sedekahkan 10 Juta dari uang itu,
berarti pahalanya 10 Juta dikali 700, karena setiap 1 kebaikan kan dibalas 700
kali. Jadi, secara matematis dosanya kan sudah terhapus tuh dengan pahala yang
didapat. Hehe... ya kalau begini, gak bakal ada orang baik lagi di dunia ini,
bakal hancur lebur deh dunia ini, bisa jadi kiamat datang makin cepat.
Oya, kembali ke puasa As Syura. Jadi kata ‘As
Syura’ itu diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘ke sepuluh’. Karena puasa ini
dilakukan pada hari ke sepuluh bulan Muharram. Nah, sebagian orang ada yang
puasa di hari ke sembilannya juga, bahkan ada yang puasa sampai hari ke
sebelas. Hal ini apakah dianjurkan? Dan apa nabi Muhammad juga pernah
melakukannya? Kalau dirunut sejarahnya, memang nabi Muhammad hanya berpuasa
pada hari ke sepuluh saja. Tapi beliau pernah berkeinginan untuk puasa di hari
ke sembilannya juga. Kenapa? Perlu kita ketahui bahwa di hari As Syura, umat
Yahudi juga berpuasa, hari itu adalah hari yang agung bagi mereka. Maka dari
itu, agar kesannya umat Islam tidak meniru-niru Yahudi, maka nabi bercita-cita
untuk berpuasa di di hari ke sembilannya juga. Namun, cita-cita itu ternyata
tidak terwujud karena sebelum datang Muharram tahun depan, beliau sudah wafat. Meskipun
belum pernah dilakukan nabi, tapi kita alangkah baiknya kita berpuasa juga di
hari ke sembilan (hari Tasu’a) juga. Terlebih di hari ke sebelas juga, jadi tiga
hari berturut-turut.
Sekian dulu ya, semoga bermanfaat. Tolong dikoreksi
kalau ada kesalahan...